



Anak-anak menjadi demikian kerdil
di tebingnya
merenung degup jantung air yang malas, namun
masih bernafsu
dari hulu ke kualanya
siapa pernah menghitung jarak sesayupnya mengheret
lodak luka
di tebing inilah terhimpun duka
pedih dalam dakapan, pusaran musim pengabdian
Kekadang lemah, kekadang berarus
bagai nafas si tua, dialah pemimpin
sesekali memerhati di sini diseksa rasa
itulah tanggungjawabnya pada janji
lihatlah anak-anak di tebing tak berbaju
merekalah penyokong
menongkah air kelabu
sungai kasih, penghujung rasa
kita sering menyaksikan
cinta akrab manusia dengan alamnya
telah lama merakam cerita kehidupan
mencatat gerak getir peralihan zaman
(Antologi Puisi Mimpi Helang - Zailiani Taslim)
di tebingnya
merenung degup jantung air yang malas, namun
masih bernafsu
dari hulu ke kualanya
siapa pernah menghitung jarak sesayupnya mengheret
lodak luka
di tebing inilah terhimpun duka
pedih dalam dakapan, pusaran musim pengabdian
Kekadang lemah, kekadang berarus
bagai nafas si tua, dialah pemimpin
sesekali memerhati di sini diseksa rasa
itulah tanggungjawabnya pada janji
lihatlah anak-anak di tebing tak berbaju
merekalah penyokong
menongkah air kelabu
sungai kasih, penghujung rasa
kita sering menyaksikan
cinta akrab manusia dengan alamnya
telah lama merakam cerita kehidupan
mencatat gerak getir peralihan zaman
(Antologi Puisi Mimpi Helang - Zailiani Taslim)
No comments:
Post a Comment